Kisah Resiliensi

Rangkaian kisah yang berkelindan dan menunjukkan kekuatan dan kemampuan adaptasi organisasi Masyarakat Adat dan masyarakat setempat selama pandemi COVID-19.

Pandemi COVID-19 telah mengubah kehidupan manusia dengan adanya implikasi baru dalam aspek sosial dan ekonomi. Di tengah kondisi darurat dunia, Masyarakat Adat dan masyarakat sekitar hutan bertahan, beradaptasi, dan bangkit dari kesulitan. Kisah inspiratif mereka menerangi salah satu babak paling kelam sepanjang sejarah.

Kosta Rika

Penyelamatan Benih dan Kembali ke Alam

Di wilayah adat Bribri dan Cabécar, Kosta Rika, sekelompok perempuan menginisiasi gerakan penjaminan kualitas pangan untuk ratusan keluarga.

Indonesia

Organisasi dan Solidaritas Masyarakat dalam Menghadapi Kesukaran

Solidaritas, persatuan, dan organisasi masyarakat berhasil melindungi jutaan orang selama pandemi di Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia.

Brasil

Mempertahankan Kekuatan Warisan Leluhur di Tengah Pandemi

Didukung oleh semangat leluhur dan spiritualitas, Masyarakat Adat Brasil mampu bertahan di tengah pandemi dengan caranya sendiri, teguh dalam memperjuangkan hak dan perlindungan lingkungan.

Ekuador

Membangkitkan Kembali Pengetahuan Leluhur

Ketika COVID-19 melanda hutan hujan Amazon Ekuador, masyarakat memanfaatkan pengetahuan leluhurnya, membangkitkan kembali praktik pengobatan tradisional dengan wawasan mendalam tentang tanaman dan alam.

Kisah Resiliensi adalah kolaborasi Global Alliance of Territorial Communities dengan TINTA (The Invisible Thread) untuk menginspirasi perubahan dunia dengan menyoroti praktik kehidupan Masyarakat Adat dan masyarakat setempat yang berhasil menghadapi COVID-19.

TINTA (The Invisible Thread) merupakan platform fasilitasi global yang berfokus memperkuat organisasi Masyarakat Adat, masyarakat setempat, dan garda depan.

Kosta Rika

Penyelamatan benih dan Kembali ke Alam

Ketika pandemi COVID-19 menyerang, masyarakat Bribri dan Cabécar mengandalkan penjualan pisang olahan dan pisang segar untuk kelangsungan hidupnya. Penutupan jalan dan terhentinya kegiatan ekonomi menimbulkan keadaan darurat untuk penyediaan pangan sebagai bentuk solidaritas bagi ratusan keluarga di masyarakat Talamanca, sebuah wilayah dengan populasi Masyarakat Adat terbesar di Kosta Rika. Meski demikian, awal kemelut ini justru menghidupkan kembali metode pertanian tradisional dan pola makan yang bergizi, organik, dan mengikuti tradisi leluhur.

Sebagai perempuan, kami harus terus menyuarakan masalah produksi dan ketahanan pangan yang menjadi persoalan paling sensitif dan mengkhawatirkan bagi perempuan karena menyangkut kebutuhan makan bagi keluarga.

Maricela Fernández, ketua masyarakat Cabécar dan presiden Asosiasi Perempuan Kábata Könana ketika berbagi informasi dan pengalaman di salah satu wilayah masyarakat yang menjadi jaringan Asosiasi ini.

Penghormatan terhadap adat istiadat dan praktik leluhur telah menghidupkan kembali minat masyarakat untuk bercocok tanam secara mandiri dan organik. Hal ini mendorong kaum perempuan untuk kembali membudidayakan tanaman yang dahulu ditanam nenek moyang di daerah pegunungan, dengan memanfaatkan warisan pengetahuan dari para leluhur untuk menghasilkan pangan segar yang berlimpah.

Penjaga Hutan Hujan dan Gunung

Dua pekan setelah pandemi melanda pada tahun 2020, Asosiasi Pengembangan Integral Wilayah Adat Talamanca Cabécar (ADITICA) menghelat pertemuan untuk membahas keadaan darurat kesehatan masyarakat dan mendelegasikan tanggung jawab kepada organisasi masyarakat yang menjadi anggotanya. Itulah awal mula Asosiasi Perempuan Kábata Könana, yang berarti Pelindung Hutan Hujan dan Gunung di Cabécar, mengemban tanggung jawab untuk mengembangkan proses produksi berbasis budaya inti yang berfokus pada ketahanan pangan.

Kelompok perempuan ini melakukan analisis terhadap kebutuhan masyarakat yang tinggal jauh di dalam hutan hujan. Hasilnya menunjukkan bahwa tersisihnya kegiatan pertanian disebabkan penjualan beberapa komoditas yang telah memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat di sana. Maricela Fernández, ketua masyarakat Cabécar menjelaskan, “Perhatian kami lebih terpusat pada penjualan pisang olahan dan pisang segar. Kami lebih tertarik menjual komoditas tersebut daripada menanam jenis biji-bijian, umbi-umbian, tanaman obat, dan diversifikasi lahan.”

Ketika mengadakan analisis ini, para anggota Asosiasi Perempuan Kábata Könana harus mengunjungi 110 keluarga di masyarakat yang tersebar di hutan tropis, lembah, dan pegunungan yang jauh. Untuk mencapai dusun-dusun ini, kadang para anggota Asosiasi Perempuan ini harus menyeberangi sungai-sungai besar di daerah tersebut.

Sedikit demi sedikit dilakukan pencatatan/inventarisasi mengenai komoditas yang pernah ditanam setiap perempuan di lahan masing-masing, mulai dari padi, kacang-kacangan, jagung, ubi kayu, kakao, cabai, buah-buahan, tanaman obat, dan masih banyak lagi. Pencatatan ini membantu menentukan petani perempuan yang membutuhkan benih untuk memulai kembali penanaman komoditas tersebut di lahan miliknya. Langkah ini mengembalikan keberadaan sumber pangan tradisional yang sehat dan dapat memenuhi kebutuhan sendiri yang telah dikonsumsi masyarakat Bribri dan Cabécar selama ratusan tahun.

Selanjutnya, kami mulai melakukan kegiatan pertanian tradisional tanpa penggunaan bahan kimia. Kami semua berupaya menanam komoditas secara organik untuk melestarikan bibit asli yang tahan terhadap perubahan iklim, dan itulah yang kami lakukan hingga saat ini.

Kebutuhan akan diversifikasi tanaman dan pelestarian benih mendorong Asosiasi Kábata Könana untuk menciptakan sistem pertukaran benih dan hasil panen bagi para perempuan di daerah tersebut. Melalui penyelenggaraan bazar dan pasar bulanan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk menjual kelebihan atau menukar hasil panen, perempuan di daerah ini juga memasarkan hasil panennya kepada sesama perempuan lainnya sekaligus berkontribusi memenuhi kebutuhan masyarakat.

Makanan masyarakat Bribri dan Cabécar mencakup berbagai macam umbi-umbian, biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan.

Merajut Jaringan Masyarakat

Proyek Kábata Könana mulai membuahkan hasil bagi masyarakat di wilayah adat Talamanca Cabécar. Mengingat daerah lain juga memiliki kebutuhan yang sama, Jaringan Masyarakat Adat Bribri dan Cabécar (RIBCA) juga mendorong adanya upaya berbagai pengetahuan di antara enam organisasi perempuan untuk mereplikasi penyelenggaraan pasar dan pertukaran benih di daerah lain.

Alondra Cerdas adalah tokoh masyarakat di wilayah adat Tayní dan presiden Asosiasi Perempuan Ditsä Wä Kjänana, yang berarti Perempuan Pelindung Benih di Cabécar. Organisasi yang dipimpinnya merupakan salah satu yang mereplikasi pasar dan pertukaran benih yang dimulai di wilayah Talamanca Cabécar.

Alondra mengenang saat awal pandemi ketika pasar-pasar ditutup dan dihentikannya program pembagian makanan dari Kementerian Pendidikan untuk anak-anak dan remaja di sekolah dan perguruan tinggi di seluruh negeri. Program pemberian makanan di sekolah merupakan sumber makanan utama bagi anak-anak di wilayah ini. Ketika program ini dihentikan, sejumlah keluarga mulai membutuhkan lebih banyak makanan, dan pada saat yang sama, harga makanan mulai mengalami kenaikan.

Atas dasar inilah para perempuan di wilayah Tayní memutuskan untuk memenuhi kebutuhan mendesak akan pentingnya upaya untuk kembali melanjutkan pertanian tradisional. Sistem pertanian tradisional ini mengedepankan budi daya tanaman, buah, sayuran, dan umbi-umbian secara organik, bebas bahan agrokimia, dan memanfaatkan petak lahan berbeda sehingga memberikan asupan nutrisi yang lebih baik untuk sumber makanan keluarga.

Alondra menganggap tahun pertama pandemi sebagai masa yang sangat buruk bagi masyarakat dan daerahnya secara umum. Alondra bekerja sebagai asisten untuk Program Kepedulian Masyarakat Adat di Lembaga Kesehatan Nasional, yang merupakan bagian dari Lembaga Jaminan Sosial Kosta Rika yang menangani kasus pertama COVID-19 di wilayah adat Tanyí.

Kami menyimpulkan bahwa pola makan yang sehat akan membantu melindungi diri dari virus dan penyakit apa pun dengan adanya pertahanan tubuh yang lebih baik untuk melawan berbagai penyakit. Hasil bumi kami ditanam secara organik. Jika tahu cara merawat dan menanamnya dengan baik, tanaman ini akan sangat bermanfaat karena mengandung banyak vitamin, kalsium, dan zat besi untuk sistem kekebalan tubuh.

Dengan menghidupkan kembali kegiatan pertanian tradisional, kualitas hidup masyarakat di daerah ini mengalami peningkatan dan menciptakan kegiatan ekonomi yang mampu menghasilkan pendapatan melalui penjualan hasil panen berlebih dari lahan milik para perempuan.

Selain makanan, para perempuan juga memanfaatkan beragam jenis hasil hutan yang dibuat menjadi berbagai kerajinan tangan, termasuk keranjang dan kerajinan lainnya. Mereka menjualnya selama pameran dan pasar bulanan.

Beberapa organisasi perempuan berkumpul di Gavilán Canta, lokasi kantor utama Asosiasi Kábata Konana. Di sinilah tempat pengoordinasian pengangkutan para petani perempuan dan hasil panen masyarakat dari desa-desa di wilayah pegunungan. Fasilitas ini adalah milik Asosiasi, dan para perempuan ini adalah pemilik lahannya. Bersama-sama, mereka membangun kantor yang dilengkapi dengan panel surya, akses internet, ruang tidur, dan dapur yang memadai.

Tak jauh dari kantor, para perempuan ini juga membuat rumah bundar yang menonjolkan gaya arsitektur, cara hidup, dan tradisi masyarakat Cabécar. Rumah ini menggunakan kayu, tali, dan daun palem dari hutan sebagai bahan bangunannya. Di rumah bundar inilah, kegiatan budaya, pertemuan, dan semua acara masyarakat diselenggarakan. Di beberapa petak yang tersebar di lahan ini, para perempuan juga mendirikan dan merawat persemaian yang dibangun sesuai dengan teknik warisan leluhur Cabécar. Persemaian berbentuk bundar, sama seperti bangunan rumah tinggal mereka.

Memberdayakan perempuan di masyarakat untuk menanam bahan pangan menjadi upaya yang terus berlanjut hingga saat ini. Upaya ini telah memberikan manfaat bagi ratusan keluarga dan mendorong puluhan perempuan untuk secara aktif terlibat dalam penyelenggaraan pasar dan pertukaran benih.

Pengetahuan tradisional merupakan esensi dari masyarakat di suatu wilayah adat. Pengetahuan ini adalah kekuatan masyarakat karena memiliki ikatan kuat dengan bumi, hutan, dan alam semesta. Masa pandemi adalah masa yang sulit bagi kami karena merenggut banyak nyawa tetua kami. Namun, dari pandemi ini kami juga dapat belajar dan merangkul kembali beragam pengetahuan, praktik, dan budaya yang hampir terlupakan.

Prioritas yang jelas dari asosiasi perempuan mendorong para perempuan di wilayah ini untuk melanjutkan kegiatan pertanian organik tradisional. Dalam praktik ini tanaman, buah-buahan, sayuran, dan umbi-umbian ditanam dan dirawat di bedengan bersama tanaman lain. Praktik ini juga menekankan pentingnya pelestarian benih yang paling tahan terhadap perubahan iklim, dan mendorong pola makan tradisional warisan leluhur. Semua ini terwujud berkat kegigihan para petani perempuan dan karena wilayahnya diakui secara hukum sehingga membantu para perempuan ini mengambil keputusan sendiri dalam menghadapi masalah kesehatan dan ekonomi.

Berbagai kegiatan dan gagasan dari Masyarakat Adat berperan penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan perlambatan hilangnya keanekaragaman hayati di hutan tropis di seluruh dunia. Mendukung pembelaan terhadap hak-hak wilayah adat adalah salah satu cara paling efektif untuk melestarikan keanekaragaman hayati di planet ini, yang menjadi tumpuan masa depan umat manusia.

Kisah Resiliensi adalah proyek Global Alliance of Territorial Communities dan TINTA (The Invisible Thread) untuk mendokumentasikan dan memvisualisasikan berbagai kisah yang menunjukkan kemampuan beradaptasi, kekuatan, dan persatuan masyarakat dan komunitas dalam menghadapi COVID-19 di wilayah Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang bersama-sama membentuk terwujudnya Aliansi.

Indonesia

Organisasi dan Solidaritas Masyarakat dalam Menghadapi Kesukaran

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bergerak di tingkat lokal, nasional, dan internasional untuk mengadvokasi Masyarakat Adat di seluruh Indonesia, mewakili lebih dari 2350 komunitas dengan total 21 juta anggota.

Membentang dari Pulau Sumatra di Benua Asia hingga bagian barat Papua Nugini di Oseania, Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Sekalipun kondisi geografisnya sangat luas, AMAN berhasil mendukung dan mendampingi komunitas anggotanya selama pandemi COVID-19 dengan memberikan panduan yang jelas ketika Pemerintah Indonesia takmampu memberikan bantuan secara efektif.

Kebun sayur masyarakat. Rongkong, Sulawesi Selatan

Pendekatan strategis kepemimpinan AMAN menghasilkan rencana aksi yang jelas dan dilaksanakan banyak komunitas di berbagai tempat, yang melindungi kehidupan dan kesejahteraan jutaan orang selama masa sulit akibat kondisi darurat kesehatan global.

Struktur Kokoh untuk Menopang Komunitas

Sejak diumumkannya pandemi oleh WHO pada bulan Maret 2020, Sekjen AMAN mengarahkan seluruh pengurus wilayah/provinsi dan daerah, organisasi, dan kelompok lainnya untuk melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (lockdown) di wilayah adat.

Eustobio Rero, Deputi Urusan Organisasi Sekjen AMAN, masih mengingat pengumuman merebaknya pandemi disampaikan tepat sebelum dimulainya rapat umum tahunan AMAN yang dijadwalkan berlangsung di Flores, Nusa Tenggara Barat:

Pengumuman itu disampaikan tepat satu hari sebelum rapat dimulai, dan kami memutuskan untuk menunda acara tersebut, meskipun semua pengurus di tingkat wilayah/provinsi dan daerah sudah dalam perjalanan untuk menghadiri rapat. Beberapa peserta rapat telah sampai di bandara atau dalam proses transit, tetapi kami memutuskan untuk membatalkan rapat guna mencegah penyebaran COVID-19 ke masyarakat

Langkah cepat lainnya yang diambil pengurus besar AMAN adalah instruksi untuk meningkatkan produksi beras dan makanan pokok lainnya, distribusi masker dan alat pelindung diri bagi petugas medis dan staf layanan kesehatan primer, serta melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan, rumah sakit, dan layanan kesehatan di lingkungan masyarakat.

Upaya tanggap darurat yang dilakukan oleh AMAN sendiri berperan penting dalam melindungi masyarakat, karena kebijakan publik Pemerintah Indonesia baru dikeluarkan sekitar bulan Mei dan Juni 2020 ketika virus COVID-19 telah menyebar di Jakarta, Surabaya, Medan, dan daerah lainnya di negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia ini.

Seluruh komunitas Masyarakat Adat telah mengikuti arahan pembatasan sosial sejak bulan Maret 2020 hingga Februari 2021. Selama masa itu, tidak ada satu pun anggota komunitas Masyarakat Adat yang meninggal karena COVID-19. Selama delapan bulan, kami berfokus memastikan tindakan mitigasi, dengan melakukan pembatasan sosial berskala besar dan kecukupan pangan. Kami berhasil melewatinya.

Eustobio Rero
Deputi Urusan Organisasi, AMAN

Pada bulan November 2021, varian Delta COVID-19 menyebar di lebih dari 179 negara. Banyak Masyarakat Adat di Indonesia jatuh sakit, dan AMAN mengambil langkah lebih besar untuk melawan dampak pandemi.

Pada fase kedua pandemi, yaitu saat varian Delta menyebar, banyak warga masyarakat yang terinfeksi. Kemudian kami memfokuskan strategi dalam dua hal: membantu menyediakan peralatan kesehatan bagi unit layanan kesehatan dan mendukung Pemerintah menyediakan vaksin bagi Masyarakat Adat. Kami berhasil mendorong Kementerian Kesehatan untuk menyediakan ratusan ribu vaksin, khusus untuk Masyarakat Adat.

Annas Radin
Deputi Urusan Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat, AMAN

Kampanye pemberian vaksinasi berhasil digelar dengan bantuan dari Kementerian Kesehatan.

AMANKan: Tindakan Tanggap Darurat

Kerja keras ribuan anggota AMAN berhasil membantu dilakukannya pembatasan sosial di lingkungan masyarakat, membangun lokasi karantina, dan meningkatkan produksi pertanian. Semua ini berhasil dilakukan karena AMAN membangun 108 Unit Tanggap Darurat di tingkat masyarakat.

Unit Tanggap Darurat yang dinamai AMANKan ini dipimpin oleh para perempuan dan pemuda yang bekerja tanpa lelah untuk menerapkan pembatasan sosial, memastikan proses karantina yang bermartabat bagi orang yang kembali ke desa dari perkotaan, menata praktik ritual dan penyembuhan tradisional, serta memastikan bahwa arahan peningkatan produksi pangan terus dijalankan.

Dokumentasi tanggap darurat AMANKan, foto dari tim AMANKan di seluruh Indonesia.

Annas Radin, Deputi Urusan Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat, mengemban tugas koordinasi AMANKan. Annas menjelaskan bahwa arahan memproduksi lebih banyak bahan pangan di wilayah adat menjadi pencapaian terbesar bagi tim tanggap darurat karena menghasilkan surplus yang memungkinkan AMAN menyalurkan kembali bahan pangan tersebut kepada organisasi dan masyarakat yang membutuhkan di kota. Dengan meningkatkan produksi pertaniannya, anggota komunitas AMAN telah berkontribusi besar terhadap kesejahteraan jutaan orang.

Kedaulatan dan Solidaritas

Selain manfaat sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari produksi pangan bagi Masyarakat Adat, tim tanggap darurat AMAN juga mempertimbangkan aspek yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Seperti yang disampaikan Annas:

Masyarakat didorong untuk menjalankan karantina secara bermartabat. Ini artinya, jika ada warga yang kembali ke desa, atau ketika ada orang yang sakit atau memiliki gejala mirip COVID-19, mereka akan melakukan karantina di hutan, kebun, atau di dekat sungai, dan masyarakat membangun tempat istirahat, mengirimkan makanan setiap hari, dan merawatnya sampai sembuh.

Annas Radin
Deputi Urusan Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat, AMAN

Metode sederhana tetapi efektif ini menjadi cara untuk mencegah penyebaran COVID-19 di desa dan memastikan bahwa orang yang jatuh sakit akan pulih dengan baik. Namun, ketika COVID-19 varian Delta menyebar, kebijakan yang lebih ketat ditegakkan guna menjaga agar krisis ini tidak menyebar ke desa.

Upaya yang dilakukan masyarakat untuk melindungi desanya, yakni merawat orang sakit dan meningkatkan produksi pertanian, dilakukan oleh para perempuan dan pemuda yang bekerja tanpa mengenal lelah.

Kami bergotong-royong dengan penuh solidaritas untuk mengumpulkan beras dan memastikan bahwa warga yang tengah menjalani karantina mendapatkan makanan yang cukup. Beberapa dari kami memasak makanan untuk mereka. Saat ada warga yang terkonfirmasi positif (COVID-19), kami akan mengirimkan nasi dan ikan atau sayuran yang telah dimasak

Romba Marannu.
Ketua Aliansi Masyarakat Adat Toraja

Anggota komunitas bekerja dengan tujuan yang sama dan saling mendukung satu sama lain sehingga berhasil melakukan lebih dari sekadar bertahan hidup. Upaya ini menghasilkan pangan bergizi untuk ribuan orang di berbagai kota di Indonesia yang mengalami dampak terparah pandemi.

Sejak didirikan pada tahun 1999, AMAN telah membangun struktur organisasi yang kuat dan mengawasi beragam urusan seperti manajemen dan operasional, pengerahan sumber daya, dukungan dan pengabdian masyarakat, pengembangan ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, serta pendidikan dan kebudayaan. Keputusan yang diambil oleh Sekjen dan seluruh Deputi AMAN pada awal pandemi terbukti efektif dalam melindungi masyarakat di wilayah adat.

AMAN memperjuangkan pengakuan dan perlindungan hak Masyarakat Adat di Indonesia. Langkah yang diambil AMAN di semua tingkatan, mulai dari masyarakat hingga pengurus besar, dapat dilakukan berkat struktur organisasi yang kuat. Penegakan hak-hak Masyarakat Adat bukan hanya sekadar solusi bagi krisis iklim yang tengah terjadi, tetapi juga sarana untuk menjamin keberlangsungan pengetahuan dan warisan budaya yang sangat besar untuk kepentingan bersama umat manusia.

Kisah Resiliensi adalah proyek Global Alliance of Territorial Communities dan TINTA (The Invisible Thread) untuk mendokumentasikan dan memvisualisasikan berbagai kisah yang menunjukkan kemampuan beradaptasi, kekuatan, dan persatuan masyarakat dan komunitas dalam menghadapi COVID-19 di wilayah Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang bersama-sama membentuk terwujudnya Aliansi.

Brasil

Mempertahankan Kekuatan Warisan Leluhur di Tengah Pandemi

Selama masa pandemi, Asosiasi Masyarakat Adat Brasil (APIB) memimpin organisasi anggotanya melalui sistem peringatan anticovid yang dikoordinasikan secara terpusat. Sistem ini mencakup program pembatasan masyarakat dan vaksinasi untuk 311 komunitas Masyarakat Adat yang menjadi anggota organisasi ini. Meskipun telah berpengalaman dalam mengoordinasikan mobilisasi dan advokasi berskala besar, nyatanya respons terhadap pandemi menjadi tantangan organisasi paling rumit bagi APIB sejak didirikan pada tahun 2005.

Kampanye vaksin oleh APIB, Desa Khikatxi, Negara Bagian Mato Grosso, Brasil. Sumber: Kamikia Kisedje

Di negara seperti Brasil, yang merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ketujuh di dunia, koordinasi permanen untuk membela hak adat memerlukan tindakan perencanaan, uji visibilitas, dan mobilisasi sipil. Tindakan ini didorong oleh pergerakan akar rumput yang memanfaatkan energi warisan leluhur dan spiritual. Mempertahankan pengetahuan warisan leluhur, melestarikan spiritualitas, dan membela hak kepemilikan lahan merupakan persoalan yang saling berkaitan erat bagi Masyarakat Adat.

Masyarakat Adat memiliki berbagai pengetahuan tradisional, dan leluhur serta wilayah kami adalah bagian dari perjuangan kami. Kami menunjukkannya melalui lukisan, perhiasan, hiasan kepala, gelang, dan kalung. Singkatnya, melalui semua instrumen yang menguatkan kami dalam perjuangan ini.

Dinamam Tuxá
Direktur Eksekutif APIB

Penetapan wilayah adat merupakan hak konstitusional di Brasil dan seharusnya menjamin hak untuk menentukan nasib sendiri, hak otonomi, dan hak Masyarakat Adat, serta partisipasi aktifnya dalam mengelola dan melestarikan wilayah tersebut. Namun, pada praktiknya, proses penetapan lahan ini dihentikan, disabotase, dan diserang oleh berbagai kepentingan komersial dan Pemerintah.

Masyarakat Adat Brasil melindungi enam bioma yang membentuk wilayah adat dengan mempertahankan hak-haknya. Amazon, bioma paling terkenal di Brasil, merupakan hutan hujan tropis terluas di dunia. Bioma lainnya adalah Hutan Atlantik, Cerrado, Pantanal, Pampa, dan Caatinga. Secara kolektif, keenam bioma ini merupakan kontributor penting bagi keseimbangan iklim dunia.

Cacique Raoni Metuktire, salah satu kepala suku Masyarakat Adat Kayapó, seorang tokoh internasional yang menjadi simbol perjuangan pelestarian hutan hujan Amazon dan budaya adatnya. Sumber: Kamikia Kisedje/APIB

Perjuangan untuk Ibu Pertiwi adalah Induk Segala Perjuangan

Perempuan, tokoh adat perempuan, membela kehidupan. Perjuangan dan advokasi yang dilakukan para perempuan ini berfokus menjaga kelestarian Bumi dengan menghentikan deforestasi, penjarahan sumber daya alam, pencemaran air dan udara, dan kenaikan suhu global. Dengan mempertahankan semua bentuk kehidupan, perempuan adat menjadi garda terdepan pertahanan lingkungan dalam ekosistem yang sangat diperlukan bagi kehidupan manusia untuk terus bertahan hidup di planet ini.

Terlepas dari pandemi, kami selalu menghargai spiritualitas, keanekaragaman hayati yang memberi kami bahan untuk membuat obat-obatan, dan rumah bagi jiwa kami. Memikirkan keanekaragaman hayati tidak hanya berkaitan dengan tumbuhnya hutan, tetapi juga berbagai hal lainnya, termasuk unsur magis yang membangkitkan spiritualitas kami. Jadi, pandemi ini justru menjadi seruan bagi dunia tentang betapa hebat dan dahsyatnya kekuatan spiritualitas Masyarakat Adat.

Cristiane Pankararu
Tokoh Masyarakat Adat Pankararu, ANMIGA

Cristiane Pankararu merupakan salah satu pendiri Asosiasi Nasional Pejuang Perempuan Keturunan Adat (ANMIGA). Organisasi ini merupakan jaringan pemberdayaan perempuan adat yang menyerukan suara perempuan dan perannya sebagai pendidik dan penyembuh. ANMIGA terinspirasi oleh leluhurnya, para perempuan yang berjuang dari awal kolonisasi pada tahun 1500an.

Cristiane berbicara tentang kekuatan leluhur, beserta perlawanan dan perjuangannya sepanjang sejarah. Beliau juga berbagi tentang perempuan adat yang telah mewujudkan perubahan dengan memainkan peran politik dan menduduki kursi advokasi internasional. “Para perempuan inilah leluhur kami, dan sekarang kamilah pejuangnya. Karena itu, kami menamai diri sebagai pejuang leluhur karena para perempuan inilah panutan kami”.

Ragam lukisan tubuh dan ekspresi selama Aksi Pawai Perempuan Adat Brasil Ke-3. Sumber: Kamikia Kisedje/APIB

Saat ini, tokoh perempuan seperti Sônia Guajajara (Menteri Masyarakat Adat Brasil) dan Célia Xakriabá (Deputi Federal) memimpin badan pemerintah dan legislasi untuk membela hak Masyarakat Adat. Tokoh perempuan mewakili Masyarakat Adat di berbagai ruang pengambilan keputusan publik, mempertahankan nilai leluhur dan spiritualitas masyarakat melalui advokasi politik yang diusungnya.

Sônia Guajajara

Célia Xakriabá

Saat ini, Sônia Guajajara merupakan Menteri Masyarakat Adat di Brasil. Célia Xakriabá menjabat sebagai Deputi Federal untuk Negara Bagian Minas Gerais. Sumber: Ricardo Stuckert/PR dan Bruno Figueiredo/Liniker

Tarian, musik, dan lagu merupakan bentuk seni yang menceritakan kisah berabad-abad lalu, menyebarkan pengetahuan, dan memberikan harapan, serta inspirasi. Keragaman ekspresi seni dan spiritual ratusan Masyarakat Adat Brasil begitu kaya. Bentuk dan warna seni lukis tubuh juga memiliki makna yang berkaitan dengan pengetahuan atau keterampilan para insan yang merepresentasikannya.

Winti Suya, tokoh Masyarakat Adat Kisedje, memimpin desa Khikatxi selama pandemi. Pandemi adalah salah satu tantangan terberat yang dihadapi tokoh masyarakat. Memimpin masyarakat selama masa darurat kesehatan publik dalam skala pandemi memerlukan kebijakan dan waktu, dialog panjang bersama masyarakat, dan pengambilan keputusan untuk kebaikan bersama.

Saat ini kondisi masyarakat sudah lebih kuat. Dengan adanya pandemi, kami mampu menyiapkan dan mengatur diri sendiri. Kami menghadapi situasi rumit, sulit, dan di luar kendali karena kami tidak tahu persis tentang krisis ini. Kami buta akan hal ini.

Penyembuh Dunia

Terlepas dari banyaknya korban jiwa, Masyarakat Adat justru makin kuat karena pandemi ini. Masyarakat Adat mampu belajar dari pengalaman, karena pandangan hidup yang mengajarkannya demikian. Masyarakat Adat percaya bahwa pembelajaran adalah proses tanpa henti dan berlandaskan warisan pengetahuan leluhur yang luar biasa. Banyak di antaranya yang memiliki pengetahuan leluhur dan keterampilan yang diperlukan untuk terus hidup berdampingan dengan alam. Pengetahuan inilah yang menjadi bekal untuk menemukan cara menyembuhkan dunia.

Ketika kita kehilangan ikatan dengan alam, kita juga kehilangan rasa kemanusiaan. Kembali ke alam untuk berselaras dengan dunia merupakan langkah penting untuk menghentikan krisis iklim dan pemanasan global yang menjadi tantangan terbesar bagi umat manusia.

Pengambilan keputusan terkait iklim global harus menyertakan masukan dan panduan Masyarakat Adat. Upaya berbagai organisasi pejuang hak lahan harus dibiayai secara langsung, dan pengetahuannya mengenai konservasi juga harus ditingkatkan. Dalam membantu perjuangan Masyarakat Adat, kami membantu menyelamatkan dunia.

Foto dan video: Kamikia Kisedje/APIB

Kisah Resiliensi adalah proyek Global Alliance of Territorial Communities dan TINTA (The Invisible Thread) untuk mendokumentasikan dan memvisualisasikan berbagai kisah yang menunjukkan kemampuan beradaptasi, kekuatan, dan persatuan masyarakat dan komunitas dalam menghadapi COVID-19 di wilayah Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang bersama-sama membentuk terwujudnya Aliansi.

Ekuador

Membangkitkan Kembali Pengetahuan Leluhur

Ini adalah kisah dari satu desa di Amazon Ekuador tentang munculnya COVID-19 jauh di dalam hutan hujan, dan bagaimana masyarakat desa ini bersatu dan berbagi pengetahuan untuk menghadapi pandemi dan dampaknya.

Hutan hujan ini adalah pasar dan apotek terbesar dan terbaik yang kami miliki. Sama halnya seperti dokter, kami juga memiliki obat yang bisa didapatkan dari hutan hujan. Kami memiliki tumbuhan obat yang dapat menyembuhkan.
Nancy Guiquita
Wanita Bijaksana Masyarakat Waorani

Meskipun muncul secara tak terduga pada tahun 2020 dan menyebabkan kerusakan di seluruh dunia, Masyarakat Adat berpegang teguh pada pengetahuan dari leluhur dan menghadapi pandemi ini dengan kearifan dan solidaritas. Sejak bulan-bulan pertama kondisi darurat global ini, masyarakat di seluruh Amazon memanfaatkan kembali warisan pengetahuan dari leluhur dengan menerapkan kembali wejangan, lagu, dan pengalaman leluhur mereka.

Hutan Amazon adalah hutan terluas di muka bumi. Luasnya yang menakjubkan membuatnya dapat memengaruhi suhu dan mengatur iklim global. Bagi masyarakat dan komunitas yang tinggal di sekitar hutan lebat ini, Amazon menyediakan segala kebutuhannya, mulai dari makanan dan air hingga obat yang dapat menyembuhkan.

Pada awal pandemi, Pemerintah Ekuador menerbitkan perintah penutupan jalan dan mengabaikan Masyarakat Adat tanpa memberikan bantuan kesehatan. Pengabaian ini mendorong para tetua untuk segera menurunkan warisan pengetahuan dari leluhur ke generasi muda. Banyak keluarga dan masyarakat memasuki rimba untuk mengumpulkan dan kemudian menyiapkan obat yang digunakan untuk mengobati gejala dan meredakan sakit bagi yang terinfeksi.

Tanaman obat yang dikoleksi oleh Nancy Guiquita, wanita bijak masyarakat Waoraní

Jejak kearifan leluhur

Nemo Guiquita, kepala suku Waorani, memimpin proses interaksi masyarakat. Pemanfaatan kembali obat leluhur perlu didukung oleh penyediaan ruang bagi para tetua untuk berbagi pengetahuan dengan generasi muda, tidak hanya mengajari mereka tentang tumbuhan obat dan karakteristiknya, tetapi juga cara mengumpulkan, menyiapkan, dan menggunakannya.

Di sini, kami bekerja dengan para penjaga kearifan lokal, pemuda, dan perempuan untuk melawan penyakit ini. Kami harus kembali kepada tetua masyarakat kami dan mulai mengidentifikasi batang, akar, daun, dan tumbuhan obat. Pengetahuan kami kembali hidup serta menjadi pencapaian besar dan kekuatan bagi kami.
Nemo Guiquita
Nemo Guiquita, pemimpin masyarakat Waoraní

Nemo menjelaskan bagaimana “generasi muda harus banyak berkecimpung dalam dunia tumbuhan obat dan memahami pengetahuan dari leluhur yang dimiliki para tetua. Kami semua pun turut terlibat di dalamnya. Semua pemuda dan perempuan yang mengikuti upacara tetua kami, juga memetik pelajaran”. Nemo mengungkapkan bagaimana pengetahuan tetua suku Waorani telah membantu mereka mencegah kematian dan meningkatkan kualitas hidup mereka yang terinfeksi COVID-19.

Komunitas Union Base, Amazon Ekuador

Di belahan lain hutan hujan Amazon yang luas, Unión Base juga mengalami kelahiran kembali pengetahuan dari leluhur. Indira Vargas, kepala suku Kichwa, secara aktif berpartisipasi dalam beberapa proses pelatihan tentang COVID-19 yang diselenggarakan oleh Konfederasi Penduduk Asli Amazon Ekuador (CONFENIAE). Ia dilatih hingga menjadi Promotor kesehatan.

Bersama dengan sekelompok perempuan dari masyarakatnya, Indira menjadi bagian dari Awana Collective, sebuah wadah untuk berbagi praktik, pengalaman, dan kepedulian dari leluhur, mulai dari praktik pembuatan makanan tradisional, penanganan tumbuhan dan benih asli, hingga diskusi seputar api unggun, obat-obatan leluhur, dan peran perempuan dalam pengembangan masyarakat.

Wanita dari Awana Collective menunjukkan tanaman obat tradisional dari masyarakat Amazon di Ekuador

Indira berbicara tentang pelatihan yang diikutinya tentang pemanfaatan beragam tumbuhan Amazon: “Saya dibesarkan bersama kakek dan nenek saya sejak kecil dalam masyarakat ini dan sesungguhnya mereka telah banyak mengajari saya lewat cerita dan pengetahuan mereka. Sebagai Masyarakat Adat, nenek mengajari saya cara mengolah tanah dan bagaimana pengetahuan terhubung dengan lagu”.

Indira ingat saat berita pandemi sampai ke Unión Base dan bagaimana masyarakat sangat ketakutan mendengar berita tersebut, terutama saat menyaksikan gambar tubuh-tubuh yang tergeletak di jalan Quito dan kota lainnya di Ekuador, akibat sistem perawatan kesehatan tidak mampu menangani terlampau banyaknya orang yang terinfeksi. Setelah ketakutan awal tersebut, masyarakat berusaha menciptakan solusi untuk mengatasi krisis sistem perawatan kesehatan, dengan menyediakan berbagai ramuan alami untuk meredakan gejala COVID-19.

Eliksir, sirop, dan formulasi obat untuk meredakan sakit otot, sakit kepala, dan demam, semuanya diciptakan berdasarkan pengetahuan dan kearifan yang diturunkan para leluhur melalui lagu dan cerita. Indira mengungkapkan bahwa pemanfaatan berbagai tumbuhan dan obat leluhur dilakukan secara konsisten oleh semua masyarakat Amazon di Ekuador, meskipun ada perbedaan wilayah, bahasa, dan suku. Hal ini menunjukkan kearifan leluhur yang mendalam dan intrinsik. Perannya sebagai Promotor kesehatan adalah kombinasi yang tepat antara pengetahuan yang diturunkan para leluhur dan pengetahuan Barat.

Baik pengobatan Barat maupun pengobatan tradisional sama-sama baik. Kombinasi keduanya akan menjadi langkah besar untuk mencapai kemajuan. Langkah ini akan menjadi sebuah integrasi lintas budaya: pembentukan pengetahuan antarbudaya yang sesungguhnya.
Indira Vargas
Tokoh Komunitas Masyarakat Adat Kichwa

Perjuangan historis Masyarakat Adat dan masyarakat setempat, yang diangkat ke permukaan melalui organisasi perwakilannya, dapat menjaga cahaya pengetahuan tradisional tetap menyala dan hubungan harmonisnya dengan alam tetap terjalin dengan erat. Umat manusia memperoleh banyak pelajaran dari pengetahuan tradisional ini, mengingat nasib kita secara intrinsik berkaitan dengan nasib Masyarakat Adat dan masyarakat setempat yang merupakan pembela utama keanekaragaman hayati, hutan, air, dan kehidupan di bumi.

Kisah Resiliensi adalah proyek Global Alliance of Territorial Communities dan TINTA (The Invisible Thread) untuk mendokumentasikan dan memvisualisasikan berbagai kisah yang menunjukkan kemampuan beradaptasi, kekuatan, dan persatuan masyarakat dan komunitas dalam menghadapi COVID-19 di wilayah Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang bersama-sama membentuk terwujudnya Aliansi.

Kosta Rika

Penyelamatan benih dan Kembali ke Alam

Ketika pandemi COVID-19 menyerang, masyarakat Bribri dan Cabécar mengandalkan penjualan pisang olahan dan pisang segar untuk kelangsungan hidupnya. Penutupan jalan dan terhentinya kegiatan ekonomi menimbulkan keadaan darurat untuk penyediaan pangan sebagai bentuk solidaritas bagi ratusan keluarga di masyarakat Talamanca, sebuah wilayah dengan populasi Masyarakat Adat terbesar di Kosta Rika. Meski demikian, awal kemelut ini justru menghidupkan kembali metode pertanian tradisional dan pola makan yang bergizi, organik, dan mengikuti tradisi leluhur.

Sebagai perempuan, kami harus terus menyuarakan masalah produksi dan ketahanan pangan yang menjadi persoalan paling sensitif dan mengkhawatirkan bagi perempuan karena menyangkut kebutuhan makan bagi keluarga.

Maricela Fernández, ketua masyarakat Cabécar dan presiden Asosiasi Perempuan Kábata Könana ketika berbagi informasi dan pengalaman di salah satu wilayah masyarakat yang menjadi jaringan Asosiasi ini.

Penghormatan terhadap adat istiadat dan praktik leluhur telah menghidupkan kembali minat masyarakat untuk bercocok tanam secara mandiri dan organik. Hal ini mendorong kaum perempuan untuk kembali membudidayakan tanaman yang dahulu ditanam nenek moyang di daerah pegunungan, dengan memanfaatkan warisan pengetahuan dari para leluhur untuk menghasilkan pangan segar yang berlimpah.

Penjaga Hutan Hujan dan Gunung

Dua pekan setelah pandemi melanda pada tahun 2020, Asosiasi Pengembangan Integral Wilayah Adat Talamanca Cabécar (ADITICA) menghelat pertemuan untuk membahas keadaan darurat kesehatan masyarakat dan mendelegasikan tanggung jawab kepada organisasi masyarakat yang menjadi anggotanya. Itulah awal mula Asosiasi Perempuan Kábata Könana, yang berarti Pelindung Hutan Hujan dan Gunung di Cabécar, mengemban tanggung jawab untuk mengembangkan proses produksi berbasis budaya inti yang berfokus pada ketahanan pangan.

Kelompok perempuan ini melakukan analisis terhadap kebutuhan masyarakat yang tinggal jauh di dalam hutan hujan. Hasilnya menunjukkan bahwa tersisihnya kegiatan pertanian disebabkan penjualan beberapa komoditas yang telah memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat di sana. Maricela Fernández, ketua masyarakat Cabécar menjelaskan, “Perhatian kami lebih terpusat pada penjualan pisang olahan dan pisang segar. Kami lebih tertarik menjual komoditas tersebut daripada menanam jenis biji-bijian, umbi-umbian, tanaman obat, dan diversifikasi lahan.”

Ketika mengadakan analisis ini, para anggota Asosiasi Perempuan Kábata Könana harus mengunjungi 110 keluarga di masyarakat yang tersebar di hutan tropis, lembah, dan pegunungan yang jauh. Untuk mencapai dusun-dusun ini, kadang para anggota Asosiasi Perempuan ini harus menyeberangi sungai-sungai besar di daerah tersebut.

Sedikit demi sedikit dilakukan pencatatan/inventarisasi mengenai komoditas yang pernah ditanam setiap perempuan di lahan masing-masing, mulai dari padi, kacang-kacangan, jagung, ubi kayu, kakao, cabai, buah-buahan, tanaman obat, dan masih banyak lagi. Pencatatan ini membantu menentukan petani perempuan yang membutuhkan benih untuk memulai kembali penanaman komoditas tersebut di lahan miliknya. Langkah ini mengembalikan keberadaan sumber pangan tradisional yang sehat dan dapat memenuhi kebutuhan sendiri yang telah dikonsumsi masyarakat Bribri dan Cabécar selama ratusan tahun.

Selanjutnya, kami mulai melakukan kegiatan pertanian tradisional tanpa penggunaan bahan kimia. Kami semua berupaya menanam komoditas secara organik untuk melestarikan bibit asli yang tahan terhadap perubahan iklim, dan itulah yang kami lakukan hingga saat ini.

Kebutuhan akan diversifikasi tanaman dan pelestarian benih mendorong Asosiasi Kábata Könana untuk menciptakan sistem pertukaran benih dan hasil panen bagi para perempuan di daerah tersebut. Melalui penyelenggaraan bazar dan pasar bulanan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat untuk menjual kelebihan atau menukar hasil panen, perempuan di daerah ini juga memasarkan hasil panennya kepada sesama perempuan lainnya sekaligus berkontribusi memenuhi kebutuhan masyarakat.

Makanan masyarakat Bribri dan Cabécar mencakup berbagai macam umbi-umbian, biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan.

Merajut Jaringan Masyarakat

Proyek Kábata Könana mulai membuahkan hasil bagi masyarakat di wilayah adat Talamanca Cabécar. Mengingat daerah lain juga memiliki kebutuhan yang sama, Jaringan Masyarakat Adat Bribri dan Cabécar (RIBCA) juga mendorong adanya upaya berbagai pengetahuan di antara enam organisasi perempuan untuk mereplikasi penyelenggaraan pasar dan pertukaran benih di daerah lain.

Alondra Cerdas adalah tokoh masyarakat di wilayah adat Tayní dan presiden Asosiasi Perempuan Ditsä Wä Kjänana, yang berarti Perempuan Pelindung Benih di Cabécar. Organisasi yang dipimpinnya merupakan salah satu yang mereplikasi pasar dan pertukaran benih yang dimulai di wilayah Talamanca Cabécar.

Alondra mengenang saat awal pandemi ketika pasar-pasar ditutup dan dihentikannya program pembagian makanan dari Kementerian Pendidikan untuk anak-anak dan remaja di sekolah dan perguruan tinggi di seluruh negeri. Program pemberian makanan di sekolah merupakan sumber makanan utama bagi anak-anak di wilayah ini. Ketika program ini dihentikan, sejumlah keluarga mulai membutuhkan lebih banyak makanan, dan pada saat yang sama, harga makanan mulai mengalami kenaikan.

Atas dasar inilah para perempuan di wilayah Tayní memutuskan untuk memenuhi kebutuhan mendesak akan pentingnya upaya untuk kembali melanjutkan pertanian tradisional. Sistem pertanian tradisional ini mengedepankan budi daya tanaman, buah, sayuran, dan umbi-umbian secara organik, bebas bahan agrokimia, dan memanfaatkan petak lahan berbeda sehingga memberikan asupan nutrisi yang lebih baik untuk sumber makanan keluarga.

Alondra menganggap tahun pertama pandemi sebagai masa yang sangat buruk bagi masyarakat dan daerahnya secara umum. Alondra bekerja sebagai asisten untuk Program Kepedulian Masyarakat Adat di Lembaga Kesehatan Nasional, yang merupakan bagian dari Lembaga Jaminan Sosial Kosta Rika yang menangani kasus pertama COVID-19 di wilayah adat Tanyí.

Kami menyimpulkan bahwa pola makan yang sehat akan membantu melindungi diri dari virus dan penyakit apa pun dengan adanya pertahanan tubuh yang lebih baik untuk melawan berbagai penyakit. Hasil bumi kami ditanam secara organik. Jika tahu cara merawat dan menanamnya dengan baik, tanaman ini akan sangat bermanfaat karena mengandung banyak vitamin, kalsium, dan zat besi untuk sistem kekebalan tubuh.

Dengan menghidupkan kembali kegiatan pertanian tradisional, kualitas hidup masyarakat di daerah ini mengalami peningkatan dan menciptakan kegiatan ekonomi yang mampu menghasilkan pendapatan melalui penjualan hasil panen berlebih dari lahan milik para perempuan.

Selain makanan, para perempuan juga memanfaatkan beragam jenis hasil hutan yang dibuat menjadi berbagai kerajinan tangan, termasuk keranjang dan kerajinan lainnya. Mereka menjualnya selama pameran dan pasar bulanan.

Beberapa organisasi perempuan berkumpul di Gavilán Canta, lokasi kantor utama Asosiasi Kábata Konana. Di sinilah tempat pengoordinasian pengangkutan para petani perempuan dan hasil panen masyarakat dari desa-desa di wilayah pegunungan. Fasilitas ini adalah milik Asosiasi, dan para perempuan ini adalah pemilik lahannya. Bersama-sama, mereka membangun kantor yang dilengkapi dengan panel surya, akses internet, ruang tidur, dan dapur yang memadai.

Tak jauh dari kantor, para perempuan ini juga membuat rumah bundar yang menonjolkan gaya arsitektur, cara hidup, dan tradisi masyarakat Cabécar. Rumah ini menggunakan kayu, tali, dan daun palem dari hutan sebagai bahan bangunannya. Di rumah bundar inilah, kegiatan budaya, pertemuan, dan semua acara masyarakat diselenggarakan. Di beberapa petak yang tersebar di lahan ini, para perempuan juga mendirikan dan merawat persemaian yang dibangun sesuai dengan teknik warisan leluhur Cabécar. Persemaian berbentuk bundar, sama seperti bangunan rumah tinggal mereka.

Memberdayakan perempuan di masyarakat untuk menanam bahan pangan menjadi upaya yang terus berlanjut hingga saat ini. Upaya ini telah memberikan manfaat bagi ratusan keluarga dan mendorong puluhan perempuan untuk secara aktif terlibat dalam penyelenggaraan pasar dan pertukaran benih.

Pengetahuan tradisional merupakan esensi dari masyarakat di suatu wilayah adat. Pengetahuan ini adalah kekuatan masyarakat karena memiliki ikatan kuat dengan bumi, hutan, dan alam semesta. Masa pandemi adalah masa yang sulit bagi kami karena merenggut banyak nyawa tetua kami. Namun, dari pandemi ini kami juga dapat belajar dan merangkul kembali beragam pengetahuan, praktik, dan budaya yang hampir terlupakan.

Prioritas yang jelas dari asosiasi perempuan mendorong para perempuan di wilayah ini untuk melanjutkan kegiatan pertanian organik tradisional. Dalam praktik ini tanaman, buah-buahan, sayuran, dan umbi-umbian ditanam dan dirawat di bedengan bersama tanaman lain. Praktik ini juga menekankan pentingnya pelestarian benih yang paling tahan terhadap perubahan iklim, dan mendorong pola makan tradisional warisan leluhur. Semua ini terwujud berkat kegigihan para petani perempuan dan karena wilayahnya diakui secara hukum sehingga membantu para perempuan ini mengambil keputusan sendiri dalam menghadapi masalah kesehatan dan ekonomi.

Berbagai kegiatan dan gagasan dari Masyarakat Adat berperan penting dalam upaya mitigasi perubahan iklim dan perlambatan hilangnya keanekaragaman hayati di hutan tropis di seluruh dunia. Mendukung pembelaan terhadap hak-hak wilayah adat adalah salah satu cara paling efektif untuk melestarikan keanekaragaman hayati di planet ini, yang menjadi tumpuan masa depan umat manusia.

Kisah Resiliensi adalah proyek Global Alliance of Territorial Communities dan TINTA (The Invisible Thread) untuk mendokumentasikan dan memvisualisasikan berbagai kisah yang menunjukkan kemampuan beradaptasi, kekuatan, dan persatuan masyarakat dan komunitas dalam menghadapi COVID-19 di wilayah Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang bersama-sama membentuk terwujudnya Aliansi.

Indonesia

Organisasi dan Solidaritas Masyarakat dalam Menghadapi Kesukaran

Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) bergerak di tingkat lokal, nasional, dan internasional untuk mengadvokasi Masyarakat Adat di seluruh Indonesia, mewakili lebih dari 2350 komunitas dengan total 21 juta anggota.

Membentang dari Pulau Sumatra di Benua Asia hingga bagian barat Papua Nugini di Oseania, Indonesia menjadi negara kepulauan terbesar di dunia. Sekalipun kondisi geografisnya sangat luas, AMAN berhasil mendukung dan mendampingi komunitas anggotanya selama pandemi COVID-19 dengan memberikan panduan yang jelas ketika Pemerintah Indonesia takmampu memberikan bantuan secara efektif.

Kebun sayur masyarakat. Rongkong, Sulawesi Selatan

Pendekatan strategis kepemimpinan AMAN menghasilkan rencana aksi yang jelas dan dilaksanakan banyak komunitas di berbagai tempat, yang melindungi kehidupan dan kesejahteraan jutaan orang selama masa sulit akibat kondisi darurat kesehatan global.

Struktur Kokoh untuk Menopang Komunitas

Sejak diumumkannya pandemi oleh WHO pada bulan Maret 2020, Sekjen AMAN mengarahkan seluruh pengurus wilayah/provinsi dan daerah, organisasi, dan kelompok lainnya untuk melaksanakan pembatasan sosial berskala besar (lockdown) di wilayah adat.

Eustobio Rero, Deputi Urusan Organisasi Sekjen AMAN, masih mengingat pengumuman merebaknya pandemi disampaikan tepat sebelum dimulainya rapat umum tahunan AMAN yang dijadwalkan berlangsung di Flores, Nusa Tenggara Barat:

Pengumuman itu disampaikan tepat satu hari sebelum rapat dimulai, dan kami memutuskan untuk menunda acara tersebut, meskipun semua pengurus di tingkat wilayah/provinsi dan daerah sudah dalam perjalanan untuk menghadiri rapat. Beberapa peserta rapat telah sampai di bandara atau dalam proses transit, tetapi kami memutuskan untuk membatalkan rapat guna mencegah penyebaran COVID-19 ke masyarakat

Langkah cepat lainnya yang diambil pengurus besar AMAN adalah instruksi untuk meningkatkan produksi beras dan makanan pokok lainnya, distribusi masker dan alat pelindung diri bagi petugas medis dan staf layanan kesehatan primer, serta melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan, rumah sakit, dan layanan kesehatan di lingkungan masyarakat.

Upaya tanggap darurat yang dilakukan oleh AMAN sendiri berperan penting dalam melindungi masyarakat, karena kebijakan publik Pemerintah Indonesia baru dikeluarkan sekitar bulan Mei dan Juni 2020 ketika virus COVID-19 telah menyebar di Jakarta, Surabaya, Medan, dan daerah lainnya di negara dengan jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia ini.

Seluruh komunitas Masyarakat Adat telah mengikuti arahan pembatasan sosial sejak bulan Maret 2020 hingga Februari 2021. Selama masa itu, tidak ada satu pun anggota komunitas Masyarakat Adat yang meninggal karena COVID-19. Selama delapan bulan, kami berfokus memastikan tindakan mitigasi, dengan melakukan pembatasan sosial berskala besar dan kecukupan pangan. Kami berhasil melewatinya.

Eustobio Rero
Deputi Urusan Organisasi, AMAN

Pada bulan November 2021, varian Delta COVID-19 menyebar di lebih dari 179 negara. Banyak Masyarakat Adat di Indonesia jatuh sakit, dan AMAN mengambil langkah lebih besar untuk melawan dampak pandemi.

Pada fase kedua pandemi, yaitu saat varian Delta menyebar, banyak warga masyarakat yang terinfeksi. Kemudian kami memfokuskan strategi dalam dua hal: membantu menyediakan peralatan kesehatan bagi unit layanan kesehatan dan mendukung Pemerintah menyediakan vaksin bagi Masyarakat Adat. Kami berhasil mendorong Kementerian Kesehatan untuk menyediakan ratusan ribu vaksin, khusus untuk Masyarakat Adat.

Annas Radin
Deputi Urusan Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat, AMAN

Kampanye pemberian vaksinasi berhasil digelar dengan bantuan dari Kementerian Kesehatan.

AMANKan: Tindakan Tanggap Darurat

Kerja keras ribuan anggota AMAN berhasil membantu dilakukannya pembatasan sosial di lingkungan masyarakat, membangun lokasi karantina, dan meningkatkan produksi pertanian. Semua ini berhasil dilakukan karena AMAN membangun 108 Unit Tanggap Darurat di tingkat masyarakat.

Unit Tanggap Darurat yang dinamai AMANKan ini dipimpin oleh para perempuan dan pemuda yang bekerja tanpa lelah untuk menerapkan pembatasan sosial, memastikan proses karantina yang bermartabat bagi orang yang kembali ke desa dari perkotaan, menata praktik ritual dan penyembuhan tradisional, serta memastikan bahwa arahan peningkatan produksi pangan terus dijalankan.

Dokumentasi tanggap darurat AMANKan, foto dari tim AMANKan di seluruh Indonesia.

Annas Radin, Deputi Urusan Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat, mengemban tugas koordinasi AMANKan. Annas menjelaskan bahwa arahan memproduksi lebih banyak bahan pangan di wilayah adat menjadi pencapaian terbesar bagi tim tanggap darurat karena menghasilkan surplus yang memungkinkan AMAN menyalurkan kembali bahan pangan tersebut kepada organisasi dan masyarakat yang membutuhkan di kota. Dengan meningkatkan produksi pertaniannya, anggota komunitas AMAN telah berkontribusi besar terhadap kesejahteraan jutaan orang.

Kedaulatan dan Solidaritas

Selain manfaat sosial dan ekonomi yang dihasilkan dari produksi pangan bagi Masyarakat Adat, tim tanggap darurat AMAN juga mempertimbangkan aspek yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat. Seperti yang disampaikan Annas:

Masyarakat didorong untuk menjalankan karantina secara bermartabat. Ini artinya, jika ada warga yang kembali ke desa, atau ketika ada orang yang sakit atau memiliki gejala mirip COVID-19, mereka akan melakukan karantina di hutan, kebun, atau di dekat sungai, dan masyarakat membangun tempat istirahat, mengirimkan makanan setiap hari, dan merawatnya sampai sembuh.

Annas Radin
Deputi Urusan Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat, AMAN

Metode sederhana tetapi efektif ini menjadi cara untuk mencegah penyebaran COVID-19 di desa dan memastikan bahwa orang yang jatuh sakit akan pulih dengan baik. Namun, ketika COVID-19 varian Delta menyebar, kebijakan yang lebih ketat ditegakkan guna menjaga agar krisis ini tidak menyebar ke desa.

Upaya yang dilakukan masyarakat untuk melindungi desanya, yakni merawat orang sakit dan meningkatkan produksi pertanian, dilakukan oleh para perempuan dan pemuda yang bekerja tanpa mengenal lelah.

Kami bergotong-royong dengan penuh solidaritas untuk mengumpulkan beras dan memastikan bahwa warga yang tengah menjalani karantina mendapatkan makanan yang cukup. Beberapa dari kami memasak makanan untuk mereka. Saat ada warga yang terkonfirmasi positif (COVID-19), kami akan mengirimkan nasi dan ikan atau sayuran yang telah dimasak

Romba Marannu.
Ketua Aliansi Masyarakat Adat Toraja

Anggota komunitas bekerja dengan tujuan yang sama dan saling mendukung satu sama lain sehingga berhasil melakukan lebih dari sekadar bertahan hidup. Upaya ini menghasilkan pangan bergizi untuk ribuan orang di berbagai kota di Indonesia yang mengalami dampak terparah pandemi.

Sejak didirikan pada tahun 1999, AMAN telah membangun struktur organisasi yang kuat dan mengawasi beragam urusan seperti manajemen dan operasional, pengerahan sumber daya, dukungan dan pengabdian masyarakat, pengembangan ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, serta pendidikan dan kebudayaan. Keputusan yang diambil oleh Sekjen dan seluruh Deputi AMAN pada awal pandemi terbukti efektif dalam melindungi masyarakat di wilayah adat.

AMAN memperjuangkan pengakuan dan perlindungan hak Masyarakat Adat di Indonesia. Langkah yang diambil AMAN di semua tingkatan, mulai dari masyarakat hingga pengurus besar, dapat dilakukan berkat struktur organisasi yang kuat. Penegakan hak-hak Masyarakat Adat bukan hanya sekadar solusi bagi krisis iklim yang tengah terjadi, tetapi juga sarana untuk menjamin keberlangsungan pengetahuan dan warisan budaya yang sangat besar untuk kepentingan bersama umat manusia.

Kisah Resiliensi adalah proyek Global Alliance of Territorial Communities dan TINTA (The Invisible Thread) untuk mendokumentasikan dan memvisualisasikan berbagai kisah yang menunjukkan kemampuan beradaptasi, kekuatan, dan persatuan masyarakat dan komunitas dalam menghadapi COVID-19 di wilayah Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang bersama-sama membentuk terwujudnya Aliansi.

Brasil

Mempertahankan Kekuatan Warisan Leluhur di Tengah Pandemi

Selama masa pandemi, Asosiasi Masyarakat Adat Brasil (APIB) memimpin organisasi anggotanya melalui sistem peringatan anticovid yang dikoordinasikan secara terpusat. Sistem ini mencakup program pembatasan masyarakat dan vaksinasi untuk 311 komunitas Masyarakat Adat yang menjadi anggota organisasi ini. Meskipun telah berpengalaman dalam mengoordinasikan mobilisasi dan advokasi berskala besar, nyatanya respons terhadap pandemi menjadi tantangan organisasi paling rumit bagi APIB sejak didirikan pada tahun 2005.

Kampanye vaksin oleh APIB, Desa Khikatxi, Negara Bagian Mato Grosso, Brasil. Sumber: Kamikia Kisedje

Di negara seperti Brasil, yang merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak ketujuh di dunia, koordinasi permanen untuk membela hak adat memerlukan tindakan perencanaan, uji visibilitas, dan mobilisasi sipil. Tindakan ini didorong oleh pergerakan akar rumput yang memanfaatkan energi warisan leluhur dan spiritual. Mempertahankan pengetahuan warisan leluhur, melestarikan spiritualitas, dan membela hak kepemilikan lahan merupakan persoalan yang saling berkaitan erat bagi Masyarakat Adat.

Masyarakat Adat memiliki berbagai pengetahuan tradisional, dan leluhur serta wilayah kami adalah bagian dari perjuangan kami. Kami menunjukkannya melalui lukisan, perhiasan, hiasan kepala, gelang, dan kalung. Singkatnya, melalui semua instrumen yang menguatkan kami dalam perjuangan ini.

Dinamam Tuxá
Direktur Eksekutif APIB

Penetapan wilayah adat merupakan hak konstitusional di Brasil dan seharusnya menjamin hak untuk menentukan nasib sendiri, hak otonomi, dan hak Masyarakat Adat, serta partisipasi aktifnya dalam mengelola dan melestarikan wilayah tersebut. Namun, pada praktiknya, proses penetapan lahan ini dihentikan, disabotase, dan diserang oleh berbagai kepentingan komersial dan Pemerintah.

Masyarakat Adat Brasil melindungi enam bioma yang membentuk wilayah adat dengan mempertahankan hak-haknya. Amazon, bioma paling terkenal di Brasil, merupakan hutan hujan tropis terluas di dunia. Bioma lainnya adalah Hutan Atlantik, Cerrado, Pantanal, Pampa, dan Caatinga. Secara kolektif, keenam bioma ini merupakan kontributor penting bagi keseimbangan iklim dunia.

Cacique Raoni Metuktire, salah satu kepala suku Masyarakat Adat Kayapó, seorang tokoh internasional yang menjadi simbol perjuangan pelestarian hutan hujan Amazon dan budaya adatnya. Sumber: Kamikia Kisedje/APIB

Perjuangan untuk Ibu Pertiwi adalah Induk Segala Perjuangan

Perempuan, tokoh adat perempuan, membela kehidupan. Perjuangan dan advokasi yang dilakukan para perempuan ini berfokus menjaga kelestarian Bumi dengan menghentikan deforestasi, penjarahan sumber daya alam, pencemaran air dan udara, dan kenaikan suhu global. Dengan mempertahankan semua bentuk kehidupan, perempuan adat menjadi garda terdepan pertahanan lingkungan dalam ekosistem yang sangat diperlukan bagi kehidupan manusia untuk terus bertahan hidup di planet ini.

Terlepas dari pandemi, kami selalu menghargai spiritualitas, keanekaragaman hayati yang memberi kami bahan untuk membuat obat-obatan, dan rumah bagi jiwa kami. Memikirkan keanekaragaman hayati tidak hanya berkaitan dengan tumbuhnya hutan, tetapi juga berbagai hal lainnya, termasuk unsur magis yang membangkitkan spiritualitas kami. Jadi, pandemi ini justru menjadi seruan bagi dunia tentang betapa hebat dan dahsyatnya kekuatan spiritualitas Masyarakat Adat.

Cristiane Pankararu
Tokoh Masyarakat Adat Pankararu, ANMIGA

Cristiane Pankararu merupakan salah satu pendiri Asosiasi Nasional Pejuang Perempuan Keturunan Adat (ANMIGA). Organisasi ini merupakan jaringan pemberdayaan perempuan adat yang menyerukan suara perempuan dan perannya sebagai pendidik dan penyembuh. ANMIGA terinspirasi oleh leluhurnya, para perempuan yang berjuang dari awal kolonisasi pada tahun 1500an.

Cristiane berbicara tentang kekuatan leluhur, beserta perlawanan dan perjuangannya sepanjang sejarah. Beliau juga berbagi tentang perempuan adat yang telah mewujudkan perubahan dengan memainkan peran politik dan menduduki kursi advokasi internasional. “Para perempuan inilah leluhur kami, dan sekarang kamilah pejuangnya. Karena itu, kami menamai diri sebagai pejuang leluhur karena para perempuan inilah panutan kami”.

Ragam lukisan tubuh dan ekspresi selama Aksi Pawai Perempuan Adat Brasil Ke-3. Sumber: Kamikia Kisedje/APIB

Saat ini, tokoh perempuan seperti Sônia Guajajara (Menteri Masyarakat Adat Brasil) dan Célia Xakriabá (Deputi Federal) memimpin badan pemerintah dan legislasi untuk membela hak Masyarakat Adat. Tokoh perempuan mewakili Masyarakat Adat di berbagai ruang pengambilan keputusan publik, mempertahankan nilai leluhur dan spiritualitas masyarakat melalui advokasi politik yang diusungnya.

Sônia Guajajara

Célia Xakriabá

Saat ini, Sônia Guajajara merupakan Menteri Masyarakat Adat di Brasil. Célia Xakriabá menjabat sebagai Deputi Federal untuk Negara Bagian Minas Gerais. Sumber: Ricardo Stuckert/PR dan Bruno Figueiredo/Liniker

Tarian, musik, dan lagu merupakan bentuk seni yang menceritakan kisah berabad-abad lalu, menyebarkan pengetahuan, dan memberikan harapan, serta inspirasi. Keragaman ekspresi seni dan spiritual ratusan Masyarakat Adat Brasil begitu kaya. Bentuk dan warna seni lukis tubuh juga memiliki makna yang berkaitan dengan pengetahuan atau keterampilan para insan yang merepresentasikannya.

Winti Suya, tokoh Masyarakat Adat Kisedje, memimpin desa Khikatxi selama pandemi. Pandemi adalah salah satu tantangan terberat yang dihadapi tokoh masyarakat. Memimpin masyarakat selama masa darurat kesehatan publik dalam skala pandemi memerlukan kebijakan dan waktu, dialog panjang bersama masyarakat, dan pengambilan keputusan untuk kebaikan bersama.

Saat ini kondisi masyarakat sudah lebih kuat. Dengan adanya pandemi, kami mampu menyiapkan dan mengatur diri sendiri. Kami menghadapi situasi rumit, sulit, dan di luar kendali karena kami tidak tahu persis tentang krisis ini. Kami buta akan hal ini.

Penyembuh Dunia

Terlepas dari banyaknya korban jiwa, Masyarakat Adat justru makin kuat karena pandemi ini. Masyarakat Adat mampu belajar dari pengalaman, karena pandangan hidup yang mengajarkannya demikian. Masyarakat Adat percaya bahwa pembelajaran adalah proses tanpa henti dan berlandaskan warisan pengetahuan leluhur yang luar biasa. Banyak di antaranya yang memiliki pengetahuan leluhur dan keterampilan yang diperlukan untuk terus hidup berdampingan dengan alam. Pengetahuan inilah yang menjadi bekal untuk menemukan cara menyembuhkan dunia.

Ketika kita kehilangan ikatan dengan alam, kita juga kehilangan rasa kemanusiaan. Kembali ke alam untuk berselaras dengan dunia merupakan langkah penting untuk menghentikan krisis iklim dan pemanasan global yang menjadi tantangan terbesar bagi umat manusia.

Pengambilan keputusan terkait iklim global harus menyertakan masukan dan panduan Masyarakat Adat. Upaya berbagai organisasi pejuang hak lahan harus dibiayai secara langsung, dan pengetahuannya mengenai konservasi juga harus ditingkatkan. Dalam membantu perjuangan Masyarakat Adat, kami membantu menyelamatkan dunia.

Foto dan video: Kamikia Kisedje/APIB

Kisah Resiliensi adalah proyek Global Alliance of Territorial Communities dan TINTA (The Invisible Thread) untuk mendokumentasikan dan memvisualisasikan berbagai kisah yang menunjukkan kemampuan beradaptasi, kekuatan, dan persatuan masyarakat dan komunitas dalam menghadapi COVID-19 di wilayah Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang bersama-sama membentuk terwujudnya Aliansi.

Ekuador

Membangkitkan Kembali Pengetahuan Leluhur

Ini adalah kisah dari satu desa di Amazon Ekuador tentang munculnya COVID-19 jauh di dalam hutan hujan, dan bagaimana masyarakat desa ini bersatu dan berbagi pengetahuan untuk menghadapi pandemi dan dampaknya.

Hutan hujan ini adalah pasar dan apotek terbesar dan terbaik yang kami miliki. Sama halnya seperti dokter, kami juga memiliki obat yang bisa didapatkan dari hutan hujan. Kami memiliki tumbuhan obat yang dapat menyembuhkan.
Nancy Guiquita
Wanita Bijaksana Masyarakat Waorani

Meskipun muncul secara tak terduga pada tahun 2020 dan menyebabkan kerusakan di seluruh dunia, Masyarakat Adat berpegang teguh pada pengetahuan dari leluhur dan menghadapi pandemi ini dengan kearifan dan solidaritas. Sejak bulan-bulan pertama kondisi darurat global ini, masyarakat di seluruh Amazon memanfaatkan kembali warisan pengetahuan dari leluhur dengan menerapkan kembali wejangan, lagu, dan pengalaman leluhur mereka.

Hutan Amazon adalah hutan terluas di muka bumi. Luasnya yang menakjubkan membuatnya dapat memengaruhi suhu dan mengatur iklim global. Bagi masyarakat dan komunitas yang tinggal di sekitar hutan lebat ini, Amazon menyediakan segala kebutuhannya, mulai dari makanan dan air hingga obat yang dapat menyembuhkan.

Pada awal pandemi, Pemerintah Ekuador menerbitkan perintah penutupan jalan dan mengabaikan Masyarakat Adat tanpa memberikan bantuan kesehatan. Pengabaian ini mendorong para tetua untuk segera menurunkan warisan pengetahuan dari leluhur ke generasi muda. Banyak keluarga dan masyarakat memasuki rimba untuk mengumpulkan dan kemudian menyiapkan obat yang digunakan untuk mengobati gejala dan meredakan sakit bagi yang terinfeksi.

Tanaman obat yang dikoleksi oleh Nancy Guiquita, wanita bijak masyarakat Waoraní

Jejak kearifan leluhur

Nemo Guiquita, kepala suku Waorani, memimpin proses interaksi masyarakat. Pemanfaatan kembali obat leluhur perlu didukung oleh penyediaan ruang bagi para tetua untuk berbagi pengetahuan dengan generasi muda, tidak hanya mengajari mereka tentang tumbuhan obat dan karakteristiknya, tetapi juga cara mengumpulkan, menyiapkan, dan menggunakannya.

Di sini, kami bekerja dengan para penjaga kearifan lokal, pemuda, dan perempuan untuk melawan penyakit ini. Kami harus kembali kepada tetua masyarakat kami dan mulai mengidentifikasi batang, akar, daun, dan tumbuhan obat. Pengetahuan kami kembali hidup serta menjadi pencapaian besar dan kekuatan bagi kami.
Nemo Guiquita
Nemo Guiquita, pemimpin masyarakat Waoraní

Nemo menjelaskan bagaimana “generasi muda harus banyak berkecimpung dalam dunia tumbuhan obat dan memahami pengetahuan dari leluhur yang dimiliki para tetua. Kami semua pun turut terlibat di dalamnya. Semua pemuda dan perempuan yang mengikuti upacara tetua kami, juga memetik pelajaran”. Nemo mengungkapkan bagaimana pengetahuan tetua suku Waorani telah membantu mereka mencegah kematian dan meningkatkan kualitas hidup mereka yang terinfeksi COVID-19.

Komunitas Union Base, Amazon Ekuador

Di belahan lain hutan hujan Amazon yang luas, Unión Base juga mengalami kelahiran kembali pengetahuan dari leluhur. Indira Vargas, kepala suku Kichwa, secara aktif berpartisipasi dalam beberapa proses pelatihan tentang COVID-19 yang diselenggarakan oleh Konfederasi Penduduk Asli Amazon Ekuador (CONFENIAE). Ia dilatih hingga menjadi Promotor kesehatan.

Bersama dengan sekelompok perempuan dari masyarakatnya, Indira menjadi bagian dari Awana Collective, sebuah wadah untuk berbagi praktik, pengalaman, dan kepedulian dari leluhur, mulai dari praktik pembuatan makanan tradisional, penanganan tumbuhan dan benih asli, hingga diskusi seputar api unggun, obat-obatan leluhur, dan peran perempuan dalam pengembangan masyarakat.

Wanita dari Awana Collective menunjukkan tanaman obat tradisional dari masyarakat Amazon di Ekuador

Indira berbicara tentang pelatihan yang diikutinya tentang pemanfaatan beragam tumbuhan Amazon: “Saya dibesarkan bersama kakek dan nenek saya sejak kecil dalam masyarakat ini dan sesungguhnya mereka telah banyak mengajari saya lewat cerita dan pengetahuan mereka. Sebagai Masyarakat Adat, nenek mengajari saya cara mengolah tanah dan bagaimana pengetahuan terhubung dengan lagu”.

Indira ingat saat berita pandemi sampai ke Unión Base dan bagaimana masyarakat sangat ketakutan mendengar berita tersebut, terutama saat menyaksikan gambar tubuh-tubuh yang tergeletak di jalan Quito dan kota lainnya di Ekuador, akibat sistem perawatan kesehatan tidak mampu menangani terlampau banyaknya orang yang terinfeksi. Setelah ketakutan awal tersebut, masyarakat berusaha menciptakan solusi untuk mengatasi krisis sistem perawatan kesehatan, dengan menyediakan berbagai ramuan alami untuk meredakan gejala COVID-19.

Eliksir, sirop, dan formulasi obat untuk meredakan sakit otot, sakit kepala, dan demam, semuanya diciptakan berdasarkan pengetahuan dan kearifan yang diturunkan para leluhur melalui lagu dan cerita. Indira mengungkapkan bahwa pemanfaatan berbagai tumbuhan dan obat leluhur dilakukan secara konsisten oleh semua masyarakat Amazon di Ekuador, meskipun ada perbedaan wilayah, bahasa, dan suku. Hal ini menunjukkan kearifan leluhur yang mendalam dan intrinsik. Perannya sebagai Promotor kesehatan adalah kombinasi yang tepat antara pengetahuan yang diturunkan para leluhur dan pengetahuan Barat.

Baik pengobatan Barat maupun pengobatan tradisional sama-sama baik. Kombinasi keduanya akan menjadi langkah besar untuk mencapai kemajuan. Langkah ini akan menjadi sebuah integrasi lintas budaya: pembentukan pengetahuan antarbudaya yang sesungguhnya.
Indira Vargas
Tokoh Komunitas Masyarakat Adat Kichwa

Perjuangan historis Masyarakat Adat dan masyarakat setempat, yang diangkat ke permukaan melalui organisasi perwakilannya, dapat menjaga cahaya pengetahuan tradisional tetap menyala dan hubungan harmonisnya dengan alam tetap terjalin dengan erat. Umat manusia memperoleh banyak pelajaran dari pengetahuan tradisional ini, mengingat nasib kita secara intrinsik berkaitan dengan nasib Masyarakat Adat dan masyarakat setempat yang merupakan pembela utama keanekaragaman hayati, hutan, air, dan kehidupan di bumi.

Kisah Resiliensi adalah proyek Global Alliance of Territorial Communities dan TINTA (The Invisible Thread) untuk mendokumentasikan dan memvisualisasikan berbagai kisah yang menunjukkan kemampuan beradaptasi, kekuatan, dan persatuan masyarakat dan komunitas dalam menghadapi COVID-19 di wilayah Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang bersama-sama membentuk terwujudnya Aliansi.